12 Apr 2018

Perseteruan tiga anak bangsa dari satu guru

Seteru 1 guru, Sebuah karya yang ditulis oleh Haris Priytna berlatarkan sejarah dari tiga orang anak bangsa yang telah di gembleng oleh seorang guru yang di beri julukan oleh Belanda sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota, yaitu seorang bapak bangsa yang bernama Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Mereka adalah Mosso yang berideologikan Komunis, Soekarno yang berideologikan Nasional, dan S.M. Kartosoewirjo yang berideologikan Islam. Sebuah cerita dimana persahabatan pada waktu muda berganti menjadi peperangan saudara pada masa tuanya.

Langkah pelan kusno (nama kecil soekarno sebelum berubah nama) memasuki kamar barunya di Surabaya. Sebuah kamar kosong yang di sewakan oleh Bapak Tjokro untuk siswa – siswa yang ingin belajar di Surabaya.

“Kusno!, Ternyata sudah datang”

“Owalah Hermen, Apa kabarmu?”

“Baik. Ayo aku kenalkan dengan teman – teman disini”.

Satu persatu kamar indekost yang di ketuk pintunya untuk memperkenalkan soekarno. Kamar pertama yang di ketuk adalah kamar Soemaun. Seorang juru tulis di stasiun kereta api yang saat itu sedang membaca buku Het Communistisch Manifest. Selanjutnya adalah kamar mas Musso, Seorang yang berbadan besar, suka dengan olah raga dan Jagoan di HBS. Tak lupa pula karno di kenalkan ke Abikusno dan Mbok Tambeng.

Sekali Musso menghardik Hans, Seorang belanda yang sempat duel dengan soekarno. Hans yang bertubuh besar dan jangkung itu takluk dengan Musso. “Kalau kau macam – macam dengan soekarno, sama saja kau berurusan denganku”.”Ingatlah imprialis kecil! Ini Musso dari peneleh”. Setelah kejadian itu, Soekarno belajar dengan tenang di HBS, tak ada yang berani mengganggunya.

“Kau suka cerita kusno?”

“Iya saya sangat suka, Pak”.

“Ini saya ada buku bagus untuk kamu, De Franse Revolutie”.

Sebuah buku tentang Revolusi Prancis yang membuat seorang soekarno tenggelam ke dalam ceritanya. Sampai – sampai, Soekarno geram terhadap Louis XVI, dan membayangkan dirinya sebagai Georges Jacques Danton. Dari buku itu, Soekarno mulai tertarik dengan pemikiran pemikiran Jean-Jacques-Rousseau. Pak Tjokro pun memberikan sebuah buku karya Rousseau yang berjudul “Du contrat social ou principes du droit politique”.

Semakin tenggelam Soekarno dengan arena perpolitikan, di kamarnya yang gelap dan pengap Soekarno berteriak “Liberte, egalite, Fraternite !!”. Semakin antusias Soekarno dengan dunia politik, Pak Tjokro mengambil buku dari dalam lemarinya yang berjudul Thomas Jefferson : an Auto Biography dan History of the United States.

Setelah lulus dari HBS, Musso bekerja di Post en Telegraf Kantoor sebagai kasir. Selagi dia bekerja, Musso terlibat aktif dalam organisasi buruh kantor Pos.

“Hai no, Sedang apa kau disini?”

“Owalah Mas Musso. Aku ingin kirim paket ke blitar Mas”

Tenggelam dalam obrolan, Musso mengenalkan sosok Karl Marx dan Friedrich Engels. Dan menceritakan isi buku Manifest der Kommunistichen.

Semaun pindah ke semarang, bekerja sebagai editor koran De Volhading. Setelah pindah kesemarang, Kamar semaun di isi oleh anak baru dari Bojonegoro. Dialah Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Kartosoewirjo di daftarkan oleh ayahnya ke sekolah NIAS, yang merupakan sekolah kedokteran di Jawa.

Karno dan Karto lekas akrab, dan larut dalam obrolan – obrolan hangat. Ke akrab-an mereka mungkin karena anak anak yang lain sudah terlalu sibuk dengan urusan politik. Sesekali mereka bermain keluar meminum Es Dawet di depan kalimas sambil melihat perahu – perahu lewat.

Tabungan soekarno sudah mulai terkumpul, akhirnya satu keinginan soekarno untuk membeli sepeda Fongers akan segera tercapai. Hari minggu Karno mengajak Karto untuk membeli sepeda impiannya itu di pusat kota.

“Akhirnya sepeda yang kudamba!!, Sekarang, pasti gadis – gadis akan melirik ku. Hahahaha… “

“Ah, para gadis melirikmu memang karna kau goda karno. Hahaha”.

Suatu hari soekarno bersedih hati karena sepeda kesayangannya itu rusak akibat tertabrak pohon oleh Harsono, salah satu putra dari Pak Tjokro. Susah payah Karto menghibur karno yang hatinya sedang terguncang itu.

Harga candu sedang melonjak, Ayah karto memberikan uang lebih kepada karto. Dari kelebihan uang itu, Karto mengajak Karno ke pusat kota untuk membeli dua sepeda Fongers. Satu untuk Karto dan satunya untuk Karno.

“Kartoo!! Aku mabuk kepayang”

“Mabok Dawet No?” Sedikit jawaban dari karto yang saat itu sedang membaca buku.

“Dia gadis Belanda idamanku. Adik kelas di HBS”

“Besok kita ke Depot tiga ya. Kau jangan melongo karto saat melihat betapa cantiknya dia”.

“Karto!, itu dia yang sedang menyebrang jalan. Pasti dia lewat sini, aku akan menyapanya”.

“Hallo, Maria. Waar Kom je vandaan” sapa senyum soekarno.

“Hallo. Ik gewoon brood gekocht. Saya baru beli roti”.

“Maridjan!!!”

“Maria Speelman? Wat en verrasing !”.

Soekarno melongo, Ternyata maria dan karto sudah saling mengenal. Mereka berdua adalah teman saat di ELS Bojonegoro. Mengobrol panjang antara Karto dan Maria, membuat Karno merasa tersisihkan dan kecewa. Sesekali Karto melihat Karno dan merasa tidak enak hati. Maksud hati ingin memikat maria, Malah Karto yang akrab dengan noni itu.


“Tan, tidak lama lagi PKI akan menggerakan sebuah pemberontakan” Ucap Alimin.

“Apa?, Pertimbangan apa sampai kalian memutuskan untuk melakukan pemberontakan”

Sebuah perdebatan sengit antara Tan Malaka dan Alimin. Tan Malaka beranggapan untuk melakukan hal besar ini, seharusnya mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari moskow dan Partai Komunis lainnya.

Tiga bulan Alimin dan Musso berdiam di Moskow, mereka mendapat didikan anti-Trotsky. Sedang Tan Malaka di anggap pendukung Trotsky. Tahun 1926 akhirnya pemberontakan PKI meletus. Saat itu Alimin dan Musso sedang berada di Shanghai. Dan pada tahun 1927, PKI dinyatakan ilegal oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Assalammu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam. Oh, Katro, kok kamu disini?, Libur sekolah apa?

“Tidak Pak Tjokro, Saya di keluarkan dari NIAS karena memiliki buku sosialis yang di berikan oleh paman saya,Lik Marco.”

“Sudah, Tak apa apa, masih banyak jalan untuk mencapai cita – cita”. Hibur Pak Tjokro.

Sejak saat itu Kartosoewidjo diangkat menjadi sekretaris pribadi pak Tjokrominoto. Karir Kartosoewirdjo berlanjut sampai menjadi redaktur surat kabar Fadjar Asia. Dari sinilah Kartosoewirdjo mulai menyampaikan gagasan – gagasannya dalam bidang perpolitikan.Tulisan – tulisannya berani dan selalu membela yang tertindas.

“Orang Lampung boekanlah Monjet, Tetapi Ialah Manusia Belaka!”. Salah satu tulisannya tentang para petani lampung yang terusir oleh para kapitalis asing. “Orang Lampung dipandang dan diperlakoekan sebagai monjet belaka, ialah monjet yang dioesir dari sebatang pohon ke sebatang pohon lainnja.”.

1929, saat Kongres Partai Sarekat Islam Indonesia Jawa Barat di Garut, Soekarno, Kartosoewirdjo dan Pak Tjokro bertemu kembali. Soekarno di sana menjadi perwakilan PNI cabang Bandung. Selesai acara pak Tjokro memberi wejangan kepada kedua muridnya ini. Beliau berpesan untuk menjadi pemimpin rakyat harus bersungguh sungguh. Harus cinta dan membela kepentingan rakyat seperti membela kepentingan sendiri.

18 Sepetember 1948 kembali tumpah pemberontakan PKI di madiun. Madiun yang sudah dalam genggaman PKI, membuat Musso berangkat ke madiun dan segera membentuk struktur pemerintahan baru. Berseteru lah soekarno dengan musso karena pemberontakan ini. Segera pasukan – pasukan siliwangi di terjunkan ke Madiun untuk menyesaikan pemberontakan ini. Madiun di kepung dari berbagai penjuru. Musso yang menyamar menjadi rakyat biasa pun ditemukan. Dia tertembak di ponorogo karena melalukan perlawanan senjata.

 

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mas musso., Begini akhir perjuanganmu”.


Sebuah perjanjian renville yang wilayah Indonesia menjadi semakin kerdil, membuat seorang Kartosoewirjo mengambil sikap. Raden Oni Syahroni seorang panglima Laskar Sabilillah datang menemui Kartosoewirjo untuk meminta pendapat dalam pengambilan sikap saat semua Pasukan siliwangi yang harus meninggalkan Jawa Barat dengan membawa semua peralatan senjatanya dikarenakan isi dari perjanjian Renville.

Kartosoewirjo bersedih dan kecewa, kenapa rakyat Jawa Barat di tinggalkan begitu saja seakan rakyat Jawa Barat di relakan begitu saja untuk Belanda. Ini membuat Kartosoewirjo mengambil sikap untuk tetap di jawa barat dengan berapa pasukan yang ada.

Jalan setapak di telusuri oleh Kartosoewirjo menuju Markas TII yang berada di gunung Galunggung. Beliau berpidato pada tentaranya tentang perang badar, perang uhud dan perang perang dimana pasukan muslimin berhasil memenangkan perang dengan jumlah pasukan lebih sedikit dari pasukan musuh. Pidato pidatonya membuat semangat para Tentara Islam Indonesia.

Perjanjian Roem – Royen membuat sebuah kekecewaan kembali bagi Kartosoewirjo. Baginya perjanjian itu sama dengan menjual negara. Dan pada saat itu pun terjadi kekosongan kekuasaan di Jawa Barat. Karna dari hasil perjanjian ini, Jawa Barat bukan lagi milik kepemerintahan Indonesia. Melihat hal ini, kartosoewirjo mengambil sikap dengan segera memproklamasikan Negara Islam Indonesia.

Tahun demi tahun wilayah Negara Islam Indonesia semakin meluas. Perseteruan berlangsung antara Tentara Indonesia dan Tentara Islam Indonesia. Beratahun tahun Kartosoewirjo bergerilya di hutan karena mendapat serangan dari Tentara Indonesia.

Berbagai taktik Tentara Republik dalam memerangi Tentara Islam Indonesia. Tapi pertempuran ini tak kunjung selesai. Sampai keluarlah operasi yang bernama Bhatarayudha. Pemilihan nama operasi ini seakan menjelaskan tentang pertemburan dua orang saudara, antara Soekaran dan Kartosoewirjo. Dengan taktik pagar betis, Tentara Republik melibatkan rakyat dalam pertempuran ini agar ruang gerak Tentara Islam Indonesia menjadi semakin kecil.

Akhirnya Kartosoewirjo tertangkap yang pada saat itu beliau sedang mengidap wasir dan tuberkolosis. Beliau terlihat renta dengan umurnya yang saat itu baru 57 tahun. Saat Soekarno mendapat kabar tertangkapnya Kartosoewirjo, Dia menanyakan tentang sorot matanya. Sorot mata seorang Pejuang yang tak pernah berubah.

Hukumam mati di berikan kepada Kartosoewirjo. Berkas persetujuannya pun harus ditandatangani oleh sahabat yang pernah berjuang bersama, Soekarno. Hari demi hari berkas itu di singkirkan oleh soekarno. Sampai pada batas akhir waktu dengan tangisnya Soekarno mentandatangani berkas itu.

Tiga belas orang dalam sebuah regu tembak di pulau ubi menuntaskan perjuangan sang Kartosoewirjo.Tapi, seutas senyum terjebak di wajahnya. Keyakinannya akan perjuangan ini tidak akan sia – sia.

 

Leave a Reply