23 Aug 2018

Ayah – Irfan Hamka

Sebuah buku dari seorang yang bernama Irfan Hamka. Dalam buku ini beliau menceritakan tentang kepribadian Buya Hamka dari sudut pandangnya sabagai seorang anak kandung Buya Hamka. Banyak hal menarik yang di ceritakan oleh Irfan Hamka tentang Buya Hamka. Mulai dari Buya kecil yang haus akan ilmu pengetahuan, Cara buya berdialog dengan makhluk Gaib, dan perjalanan  Buya di dalam pergerakan Indonesia.

Artikel kali ini, saya mencoba merangkum apa yang ada di dalam buku Ayah ini, sesuai dengan imajinasi saya saat membaca buku ini.

Dahulu kala disaat zaman penjajahan Belanda, lahir seorang putra hebat yang bernama Abdul Malik Karim Amrullah. Saat dewasa beliau dekenal dengan nama Buya Hamka. Buya Hamka seorang putra dari ulama terkenal di maninjau, Sumatra Barat. Beliau seorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, Buya tidak lulus Sekolah Desa dan Sekolah Agama – nya.

Pada zaman penjajahan Belanda, sekolah di bagi menjadi 3 tingkatan, yaitu : Sekolah Desa, Sekolah Gubemener, dan ELS. Dahulu, orang yang hanya mendapat kan sekolah desa sangat di pandang rendah oleh anak anak yang bersekolah di 2 tingkat lainnya. Buya yang hanya mendapatkan sekolah desa merasa di rendahkan oleh anak – anak yang bersekolah di 2 tingkat di atasnya. Dari rasa ini, Buya bertekad untuk belajar sendiri agar tidak di rendahkan lagi di kemudian hari.

Pada usia 13-14 tahun, Buya membaca buku – buku tentang pergerakan dari dalam negeri maupun luar negeri. Tidak hanya buku – buku pergerakan, Buya juga mempelajari tentang agama dan sastra. Sampai – sampai Buya Hamka bertekad untuk pergi ke tanah Jawa agar dapat belajar pada tokoh – tokoh terkenal yang ada di Tanah Jawa.

Tekadnya inipun tak terbendung. Buya Hamka pergi tanpa sepengetahuan Ayahnya. Di saat perjalanan ke tanah Jawa, Buya sempat singgah di daerah Bengkulu. Disana Buya terjangkit penyakit cacar. Wajah yang tampan dan tubuhnya kini di penuhi dengan bekas cacar. Buya pun kembali ke rumah nya dan gagal merantau ke tanah Jawa.

Sedih hatinya belum selesai karena gagal merantau ke tanah Jawa, Pulang ke kampung Buya pernah di ejek karena wajah dan tubuhnya di penuhi dengan bekas cacar. Tapi, Buya tak pernah sedihnya itu menjadikan Buya untuk berputus asa. Bahkan, Buya semakin giat untuk membaca buku.

Tekadnya untuk pergi ke Tanah Jawa – pun belum padam. Pada saat Buya berusia 15 tahun, Buya meminta izin kepada Sang Ayah untuk pergi ke Tanah Jawa. Niatnya ini pun direstui oleh Sang Ayah. Buya pergi ke Tanah Jawa, tepatnya ke daerah Yogyakarta. Di Yogyakarta, Buya belajar dengan tokoh terkenal, seperti : HOS Cokrominoto, H. Fachruddin, R.M Soeryopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Setahun telah berlalu Buya menimba ilmu di Tanah Jawa. Ayahnya datang ke Yogyakarta untuk melihat perkembangan ilmu Buya Hamka. Ayahnya merasa bangga dengan perkembangan Buya selama belajar di Tanah Jawa. Sangat bangga-nya, Buya di minta untuk kembali ke Maninjau agar bisa berdakwah disana. Sebagai anak yang berbakti, Buya menuruti ke inginan Sang Ayah untuk kembali ke Maninjau.

“Jangan pidato saja yang kau kuasai! Kau masih belum alim”.

Tesentak hati Buya ketika Ayahnya mengakatan ini kepada Buya. Bukan tanpa alasan Ayah Buya mengatakan ini kepada Buya. Ini dikarenakan saat berdakwah, banyak yang menyadari dan menyindir buya di dalam kelemahannya berbahasa arab.  Buya menyadari kelemehannya beliau. Tapi, ucapan Ayahnya membuat buya tersentak. Tak ada dendam pada diri Buya atas ucapan Ayahnya. Bahkan ini memicu Buya untuk lebih giat lagi dalam belajar bahasa Arab.

Tak hanya kelemahannya dalam berbahasa Arab yang membuat hatinya terlecut. Buya juga ditolak ketika buya mendaftar menjadi pengajar di sekolah yang Ayahnya Buya ikut dalam mendirikan sekolah itu. Alasannya karena buya tidak memiliki Diploma.

Seolah Buya kerdil di tanah Maninjau. Buya tak urung jua untuk berputus asa. Buya menetapkan hatinya untuk belajar mendalami ilmu agama ke Tanah Mekkah. Tak hanya untuk mendalami ilmu agamanya, Buya juga turut menunaikan ibadah Haji. Dari sinilah nama Buya menjadi HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Sekian lama buya di Tanah Mekkah, Buya pulang kembali ke Indonesia. Beliau mengisi kegiatan dengan menulis dan berdakwah. Tidak hanya itu saja kegiatan Buya di Indonesia. Buya juga aktif dalam pergerakan yang ada di Indonesia. Kegiatan Buya dalam pergerakan di Indonesia pun tak serta merta berjalan mulus. Buya pernah masuk penjara karena fitnah keji terhadap buya. Buya di fitnah merencanakan pembunuhan presiden Soekarno saat itu. Tak hanya itu, Buya juga di fitnah akan salah satu dari karya tulisan Buya di anggap menjiplak karya dari novelis luar negeri.

Tapi, Inilah seorang Buya Hamka. Seorang yang keras dan tegas pendiriannya terhadap akidah dan masalah – masalah agama Islam, Tetapi, seorang yang berlemah lembut dan pemaaf terhadap orang – orang yang menyakitinya.

Pernah pada suatu saat, utusan Soekarno datang pada Buya. Utusan ini mengirimkan pesan dari Soekarno, bahwa apabila Soekarno meninggal nanti, dimohonkan untuk Buya dapa mensolatkan jenazah Soekarno. Seorang yang pernah di penjara ini dengan rendah hati menerima permohonan itu. Adapula seorang yang telah memfitnah Buya dengan tujuan keji. Dia meminta anaknya dan calon menantunya untuk bertemu Buya. Dia berharap Buya dapat mengajarkan calon menantunya yang baru Muallaf belajar agama islam. Buya pun menerima permintaan itu.

Dan banyak lagi kisah tentang Buya Hamka. Tapi ini – lah Buya Hamka, tak ada toleransi dalam menjalankan agama dan sangat toleransi terhadap sesama.

 

— hanangpriambodo —

Gambar :

http://www.semogabermanfaat.web.id/2015/09/review-buku-ayah-kisah-buya-hamka.html

Leave a Reply