13 Dec 2016

212 – Berjalan dengan adanya keimanan

Sebelum pagi itu hari hadir untuk menerbitkan sinar matahari pagi di langit jakarta, Jauh – jauh hari telah ada seumat manusia karna imannya yang bergegas berjalan kaki menuju kota yang hiruk pikuk dengan segala isinya. Kala itu senin 28 november 2016, mereka berjalan kaki menuju jakarta karena para penguasa tak memberikan izin kepada setiap armada untuk menampung mereka. Tak hanya umat ciamis yang di zalimi penguasa kala itu, di berbagai daerah pun di zalimi semisal itu. Tapi dengan keyakinan untuk menolong agama Allah Subhanna Wa Ta’ala, Alllah menurunkan pertolongan dengan berbagai cara sampai limpah ruah lah bumi jakarta dengan pakaian putih.

Aku yang sudah merencakan untuk ikut acara besar ini pun semakin bersemangat dengan melihat umat islam dari ciamis berjalan kaki lebih dari 200 Kilometer itu. Bagaimana tidak, siapa yang tidak bergetar hatinya, ketika ada saudara seiman kita rela berjalan jauh karena Allah, sedangkan kita hanya duduk penat di depan monitor sebesar 22 inci untuk menyelsaikan tugas duniawi yang tak akan pernah selesai. Tidak, aku tidak mau seperti itu lagi. 4 November 2016 sudah aku lewatkan dengan seperti itu dan sekarang aku harus hadir untuk membela agama Allah. Waktu terus berlalu, aku melewatkan ini, penyesalan yang tak pernah berlalu.

Pagi 2 Desember 2016 pun aku bergerak menuju Jakarta menggunakan kereta api dengan destinasi gambir, kereta yang indah ini dengan gerbong yang nyaman serta pemandangan baju putih di setiap kursinya, memberikan rasa yang wah sambil duduk manis dalam perjalanan ini. 1 waktu perjalanan dengan sebagian orang yang mempunyai tujuan, acara dan arah yang sama. sekitar jam 10 kurang kami sampai di langit gambir. Dan selepas mata memandang, warna putih dari pakaian kaum muslimin mendominasi untuk masuk kedalam retina mata. Ribuan bahkan Jutaan orang tersebar di berbagai tempat mengelilingi monas.

Kala itu langit sangatlah ramah, Awan menutupi kami dari sengatan sinar matahari. Tapi rasa gerah dari temperatur jakarta masih menembus kulit kami. Rintik air pun mulai turun membahasi bumi jakarta, membuat udara menjadi sejuk untuk kulit kami. Tak ada yang mencari tempat perlindungan, tak ada yang memikirkan itu kecuali sedikit. Tetap rapih pada barisan shaf yang teratur dengan sendirinya. Hikmat mendengarkan tausiah – tausiah yang menguatkan dada, ditemani tetesan air yang di berikan oleh Maha Pemberi.

Saat itu, menjelang azan di kumandangkan, di temani air yang menghujani kami, kami bertakbir menyebut dan mengagungkan tuhan kami, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!!!”. Azan pun di kumandangkan, kami semua berdiri tanpa perintah dan sahut menyahut menjawab panggilan azan. Hujanpun masih menemani kami bersamaan dengan 2 khutbah. Iqamah di kumandangkan dan melaksanakan shalat jumat bersama jutaan manusia dari berbagai penjuru dan beratapkan langit ditemani hujan. Ini rasanya, woowwwwww. 1 hari yang tak pernah aku sesali dan tak akan pernah di sesali.

Haru, ya rasa haru yang menelimuti dada saat itu. Menangis, ya aku menangis. Mungkin aku salah satu dari jutaan orang yang menangis haru dan bahagia pada saat itu. Bagaimana tidak, Aku adalah salah satu dari juataan orang dalam jamaah shalat jumat ini. Mungkin aku orang yang tak terlihat disana, tetapi aku melihat banyak orang yang luar biasa datang kesana. Aku menjadi saksi betapa indahnya jika umat muslim bersatu. Bagaimana tidak aku terharu, Berbagai golongan ada disana, bahkan yang tanpa golongan pun ada disana hanya untuk satu alasan, menolong Agama Allah. Satu pembuktikan bukan karena Allah butuh pertolongan. Tapi pembuktian bahwa kita peduli dengan ini semua. Suatu pembuktian bahwa kita berserah diri kepada-Nya untuk mendapat Rahmat-Nya. Ya Allah, Muliakan lah negeri ini dengan Rahmat Mu. Sungguh masih banyak orang disini yang peduli dengan Agamamu dan menginginkan Rahmat Mu.

Leave a Reply