17 Dec 2016

Keheningan curug siliwangi

Akhir pekan lalu aku dan temanku bergerak ke selatan bandung menuju curug siliwangi yang berada di kawasan hutan puntang. Formasi awal dengan tiga orang yang akan kesana harus menerima satu princess tumbang karena suatu hal. Akhirnya hanya dua orang lelaki yang akan berangkat kesana dengan membawa perlengakapan yang cukup dengan satu kendaraan bermotor.

Bertemu di kantor dan kami berangkat jam setengah dua belkas siang menuju kawasan hutan puntang. Tiba di sana sekitar jam setengah dua siang. Beristirahat sejanak dan melaksanakan shalat, serta sempat harus meremot server yang error daluhu sebelum kami memulai pendakian sekitar jam dua siang. Disini terlihat seperti wisata alam, dengan beberapa fasilitas seperti lapangan untuk camping di hiasi dengan pemandangan hutan Pinus yang menjulang tinggi ke langit.

Awal perjalanan ini terlihat saya dan tuntun, teman saya satu kantor, satu unit dan satu kerjaan ini mulai terlihat kelelahannya karna sudah lama nggak mendaki. Langit yang indah saat itu, tidak panas dan tidak hujan turut menemani kami dalam sebagian perjalanan ini. Sebelumnya yang terlihat seperti wisata alam, langkah demi langkah mulai terlihat ke Alamiannya sebagai hutan yang lebat dengan beraneka tumbuhan di dalamnya. Suara deru air menemani setiap langkah kami untuk sampai di tempat peristirahatan sementara di sana. Jalan yang mulai menanjak dan terlihat langit dari kejauhan mulai meneteskan airnya untuk beberapa saat, dan akhirnya pun kami merasakan air hujan itu sekitar 15 menit.

Dua jam perjalanan telah dilalui akhirnya kami menemukan tempat istirahat yang lumayan. Dekat dengan sungai, dibawah pepohonan yang menjulang tinggi, dan hanya cukup untuk satu tenda. Kami mulai menyiapkan tenda yang kala itu sudah mulai jam 4 sore. Tenda berdiri dan memasak air untuk membuat makanan favorit para pendaki, yaitu mie rebus. selesai makan kami mulai berberes dan bermain dengan air yang berada di depan kami untuk di ambil beberapa momen yang dapat di ambil.

Hari pun semakin gelap, kami mulai tertidur untuk menyipakan perjalanan esok hari menuju tujuan utama yaitu curug siliwangi. Jam empat pagi kami bangun dan melaksanakan sholat subuh, mengambil beberapa momen, dan saparan untuk tenaga dalam perjalanan. Tenda dan beberapa barang ditinggalkan di tempat kami berkemah dan membawa beberapa alat alat dan makanan menuju curug siliwangi.

Awal perjalanan kami sudah mulai bingung dengan jalur tracknya. Tuntun yang pernah kesana, lupa dengan jalur track nya karna sudah di tutupi dengan tumbuhan tumbuhan yang setinggi badan. Akhirnya kita coba buka lagi jalur yang di ingat ingat tuntun. Saat itu kami hanya punya sebilah golok untuk memotong dan memberi tanda pada batang – batang di sekitaran jalur. Sekitar 30 menit kami berjalan dan membuat lagi jalur yang telah hilang ini, akhirnya kami menemukan jalur yang sebenarnya.

Dua jam perjalanan dengan menyelusuri hutan pada pinggiran sungai, dan sering kali juga menyebrangi sungai, akhirnya sampai lah ketempat yang kami tuju. Curug siliwangi. Berada di sebuah tebing yang tinggi, menghujani bebatuan dengan derasnya air yang jatuh dari puncak bukit, menawarkan sebuah keindahan di pedalaman hutan yang butuh tenaga untuk menjamahnya. Keindahan yang luar biasa saat itu sayang tidak dapat di abadikan dari dekat karna percikan air yang di khawatirkan merusak kamera.

Untuk mencapai curugnya, kita harus memanjat tebing yang cukup licin sekitar 2 meteran. Dan ini batas keberanian saya. saya mengurungkan untuk ke curug, karna saya sebetulnya takut dengan ketinggian. Dan tuntunlah yang berhasil ke curug. Mengambil foto dari kejauhan menjadi sebuah kecukupan untuk saya. Ya walaupun dalam hati ingin sekali untuk menapakan kaki di curugnya.


Leave a Reply